JAKARTA - Menjelang momentum bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, fluktuasi harga komoditas pangan menjadi perhatian serius pemerintah. Salah satu yang paling disorot adalah cabai rawit merah, komoditas yang dikenal memiliki sensitivitas tinggi terhadap dinamika pasokan harian. Guna mengantisipasi lonjakan harga yang memberatkan konsumen, Badan Pangan Nasional (Bapanas) resmi menginisiasi langkah kolaboratif berskala besar.
Langkah ini melibatkan sinergi lintas sektor, mulai dari para petani (champion), pedagang besar, pemerintah daerah, hingga Satgas Pangan Polri. Fokus utamanya adalah memperketat pengawasan di lapangan, memperlancar jalur distribusi dari sentra produksi ke pasar utama, serta memastikan ketersediaan stok tetap aman bagi masyarakat luas.
Orkestrasi Hulu ke Hilir Demi Stabilitas Pasokan
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menekankan bahwa penanganan masalah cabai tidak bisa dilakukan secara parsial. Menurutnya, diperlukan koordinasi yang harmonis dari titik produksi hingga ke tangan konsumen.
"Cabai adalah komoditas yang sangat sensitif terhadap pasokan harian. Karena itu, penguatan distribusi dari sentra panen ke pasar utama harus kita percepat melalui koordinasi lintas daerah dan lintas kementerian," ujar Ketut dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Stabilisasi Cabai di Jakarta, Senin, 16 Februari 2026.
Ketut menjelaskan bahwa "orkestrasi hulu hingga hilir" menjadi kunci utama. Hal ini bertujuan agar wilayah-wilayah sentra produksi yang tengah memasuki masa panen dapat langsung terhubung dengan pasar konsumen utama, khususnya di DKI Jakarta. Dengan distribusi yang cepat, diharapkan tidak terjadi penumpukan stok di satu titik sementara wilayah lain mengalami kelangkaan yang memicu lonjakan harga.
Analisis Harga dan Intervensi Distribusi Pangan
Berdasarkan data Panel Harga Pangan per 14 Februari 2026, terlihat adanya disparitas harga yang cukup signifikan antara produsen dan konsumen. Di tingkat petani, rata-rata nasional harga cabai rawit merah berada di angka Rp56.383 per kg, sementara di tingkat konsumen menyentuh Rp73.339 per kg.
Selisih harga inilah yang menjadi sasaran intervensi Bapanas. Pemerintah berkomitmen memberikan ruang bagi petani untuk meraih keuntungan yang wajar, namun tetap menjaga agar harga di tingkat masyarakat tidak melambung tinggi.
"Oleh karena itu, kita tidak bisa hanya menunggu setelah Imlek atau beberapa minggu ke depan. Langkah distribusi harus segera dijalankan," tegas Ketut.
Salah satu solusi konkret yang diusung adalah Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP). Skema ini akan memobilisasi pasokan dari sentra produksi di Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Jawa Barat langsung menuju Pasar Induk Kramat Jati (PIKJ). Dengan pemangkasan biaya logistik melalui FDP, pemerintah optimis tren harga cabai akan segera mengalami penurunan.
Dukungan Penuh dari Petani dan Asosiasi
Langkah proaktif pemerintah ini mendapat sambutan positif dari para pelaku di tingkat hulu. Subhan, Ketua Champion Petani Cabai Lombok Timur, menyatakan kesiapannya untuk mendukung keterjangkauan harga melalui mekanisme kerja sama antardaerah.
“Kami berharap ada dukungan Bapanas melalui fasilitasi distribusi pangan ini. Dukungan ini penting agar pasokan tetap terjaga dan pergerakan harga dapat lebih terkendali,” ungkap Subhan.
Senada dengan Subhan, Suyono dari Asosiasi Petani Cabai Indonesia (APCI) mengonfirmasi adanya peningkatan aktivitas belanja karena berdekatan dengan momentum Imlek dan persiapan puasa. Namun, ia memberikan kabar baik mengenai potensi pasokan dalam waktu dekat.
Menurut Suyono, beberapa wilayah di Jawa Timur seperti Kediri, Blitar, Mojokerto, dan Banyuwangi akan segera memasuki masa panen raya. Meski curah hujan tinggi menjadi tantangan tersendiri bagi para petani saat proses pemetikan, ia memprediksi harga akan mulai melandai secara bertahap seiring bertambahnya volume panen.
Kesiapan Pasar Induk dan Pengawasan Ketat Satgas Pangan
Di sisi hilir, para pedagang di Pasar Induk Kramat Jati juga menyatakan kesiapan mereka untuk menyerap pasokan tambahan. Guntur, salah satu pedagang di PIKJ, menegaskan komitmennya untuk membantu menstabilkan harga melalui penyerapan cabai dari berbagai daerah, termasuk kiriman dari Sulawesi Selatan.
Di sisi lain, aspek pengawasan harga menjadi tanggung jawab serius pemerintah. Menteri Pertanian sekaligus Kepala Bapanas, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa stok pangan nasional saat ini dalam kondisi surplus dan sangat kuat menghadapi Ramadan.
“Stok kita kuat dan dalam kondisi surplus menghadapi Ramadhan. Kondisi ini harus tercermin pada harga yang baik dan wajar di masyarakat. Tidak boleh ada yang memainkan keadaan,” tegas Amran saat meresmikan Gerakan Pangan Murah (GPM) Serentak pada Jumat, 13 Februari 2026.
Pemerintah juga memberikan peringatan keras kepada pihak-pihak yang mencoba melakukan spekulasi atau praktik curang demi keuntungan pribadi. Satgas Saber Pelanggaran Harga, Keamanan, dan Mutu Pangan disiagakan untuk mengambil langkah tegas jika ditemukan adanya upaya menaikkan harga secara tidak wajar di tengah masyarakat. Dengan sinergi yang solid ini, diharapkan stabilitas pangan nasional tetap terjaga hingga Idulfitri mendatang.