Bursa

Prediksi IHSG Hari Ini: Potensi Rebound di Tengah Sentimen BI Rate

Prediksi IHSG Hari Ini: Potensi Rebound di Tengah Sentimen BI Rate
Prediksi IHSG Hari Ini: Potensi Rebound di Tengah Sentimen BI Rate

JAKARTA - Pasar modal Indonesia bersiap menyambut pembukaan perdagangan pasca-libur panjang dengan ekspektasi positif. Setelah sempat mengalami tekanan yang cukup dalam pada awal tahun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kini diprediksi akan memasuki fase pemulihan teknikal. Para investor mulai memusatkan perhatian pada berbagai katalis domestik yang diharapkan mampu meredam volatilitas global dan membawa indeks kembali ke jalur penguatan.

Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan menguat usai libur panjang, pada perdagangan Rabu (18/2). Diketahui, IHSG secara kumulatif menguat anjlok di level 7.900-an pada akhir Januari lalu. Meskipun fluktuasi jangka pendek masih terjadi, para analis melihat adanya peluang bagi indeks untuk mencatatkan rebound yang didorong oleh respons pasar terhadap rencana kebijakan bank sentral serta dinamika pasar komoditas dunia.

Analisis Teknikal dan Proyeksi Support-Resistance Indeks

Melihat pada data historis sebelum libur, kondisi pasar memang menunjukkan dinamika yang cukup dinamis. Berdasarkan data perdagangan RTI Business, diketahui IHSG bergerak melemah 0,64% ke level 8.212,27 pada penutupan Jumat. Namun, jika dilihat dalam perspektif yang lebih luas, secara kumulatif, IHSG bergerak menguat sepekan terakhir sebesar 3,49%. Pergerakan ini memberikan indikasi adanya akumulasi beli yang mulai terjadi di tengah pelemahan harga.

Dari sisi teknikal, para ahli memetakan area krusial yang perlu diperhatikan oleh pelaku pasar pada perdagangan hari ini. "Untuk Rabu, kami perkirakan IHSG berpeluang bergerak menguat dengan support 8.132 dan resistance 8.265," ungkap Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, saat dihubungi detikcom, Selasa. Area support tersebut diharapkan menjadi bantalan yang kuat jika terjadi tekanan jual, sementara resistance menjadi target terdekat untuk mengonfirmasi kelanjutan tren penguatan.

Sentimen Suku Bunga BI dan Pengaruh Harga Komoditas Global

Fokus utama pasar pada pekan ini tertuju pada kebijakan moneter yang akan diambil oleh Bank Indonesia. Ekspektasi terhadap stabilitas atau perubahan suku bunga acuan sering kali menjadi penggerak utama sektor perbankan dan properti. Herditya menyebut, IHSG berpeluang menguat menyusul ketetapan suku bunga acuan Bank Indonesia yang akan disampaikan pada Kamis (19/2) mendatang. Selain itu, menguatnya harga komoditas juga menjadi sentimen penguatan IHSG besok.

Ketidakpastian ekonomi global membuat investor lebih cenderung menunggu sinyal dari otoritas moneter domestik sebelum mengambil posisi besar. "Untuk sentimen, kami perkirakan investor akan menanti BI rate yang akan diumumkan pada hari Kamis, serta masih akan dipengaruhi oleh pergerakan harga komoditas," jelasnya. Kenaikan harga komoditas unggulan Indonesia diprediksi akan menjadi penopang bagi saham-saham di sektor energi dan pertambangan.

Dinamika Geopolitik dan Reformasi Struktur Pasar Modal

Di sisi lain, faktor eksternal berupa isu geopolitik tetap membayangi pergerakan indeks, meski dampaknya diperkirakan tidak akan mendominasi. Pengamat Pasar Modal, Reydi Octa, menyebut IHSG masih akan terkoreksi jelang pertemuan AS-Iran di Jenewa. Meski begitu, sentimen ini disebut akan sangat terbatas. Fokus pasar domestik dinilai lebih kuat dipengaruhi oleh perbaikan infrastruktur dan regulasi pasar modal di dalam negeri.

Menurut Reydi, reformasi pasar modal yang digalakkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) masih menjadi sentimen positif penggerak IHSG. Perubahan regulasi yang bertujuan untuk meningkatkan transparansi dan perlindungan investor ini menjadi jangkar bagi kepercayaan pasar. "Reformasi pasar modal oleh OJK–BEI tetap menjadi sentimen penopang IHSG. Untuk besok, pasar kemungkinan bergerak mixed dengan kecenderungan teknikal rebound jika tidak ada eskalasi signifikan dari isu geopolitik," jelasnya.

Prospek Jangka Panjang dan Strategi Investasi Menjelang Ramadan

Melihat lebih jauh ke depan, periode musiman seperti Ramadan dan Idul Fitri biasanya memberikan stimulus tambahan bagi konsumsi domestik, yang pada gilirannya berdampak positif pada emiten sektor konsumsi. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menjelaskan pergerakan IHSG masih cukup prospektif untuk jangka panjang, apalagi pada periode ramadan dan hari raya Idul Fitri.

Meskipun terdapat tekanan jual asing yang cukup signifikan—di mana pada perdagangan Jumat mencetak net foreign sell atau aksi jual bersih hingga Rp 2,03 triliun, dan secara kumulatif sepanjang tahun 2026 tercatat sebesar Rp 14,46 triliun—Nafan menilai kondisi ini bisa dipandang sebagai peluang. "Kalau kita lihat secara rata-rata beberapa tahun terakhir, IHSG masih dalam keadaan positif ya, masih relatif bullish. Jadi faktor pelemahan IHSG pada Februari itu sebenarnya bisa dijadikan momentum untuk mencermati saham-saham yang berfundamental solid," ungkapnya. Strategi buy on weakness pada saham-saham dengan fundamental kuat disarankan bagi investor yang memiliki orientasi investasi jangka panjang.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index